Fenomena Penggunaan Bahasa Nonbaku Sebagai Bentuk Dinamika Bahasa di Lingkungan Mahasiswa
Universitas Andalas

Oleh: Nadira Dwiva Rahim¹, Annisaa Zahratul Jannah², Saskia Saputri³, Fitri Nurhasanah⁴, Shanaya De’Ershya Darmawan⁵, Keyla Putri Pesilia⁶, Geby Mutia Julianti⁷
(Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)
dwivanadira@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena penggunaan bahasa nonbaku sebagai bentuk dinamika bahasa di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas. Fokus penelitian mengkaji tingkat frekuensi penggunaan bahasa nonbaku, faktor yang memengaruhi penggunaannya, bentuk-bentuk bahasa nonbaku yang digunakan, serta dampaknya terhadap komunikasi akademik dan nonakademik mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner berbasis google form kepada mahasiswa Universitas Andalas. Data penelitian diperoleh dari 73 responden dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif berdasarkan persentase jawaban responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku memiliki intensitas yang tinggi dalam komunikasi sehari-hari mahasiswa, terutama dalam interaksi antarteman. Faktor utama yang memengaruhi penggunaan bahasa nonbaku ialah kebiasaan sehari-hari, lingkungan sosial, dan pengaruh media sosial. Bentuk bahasa nonbaku yang dominan meliputi campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia, bahasa gaul, serta penggunaan singkatan populer. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa nonbaku tidak hanya dipandang sebagai penyimpangan terhadap bahasa baku, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh dinamika sosial dan budaya mahasiswa. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan bahasa sesuai konteks komunikasi, khususnya dalam lingkungan akademik.

KATA KUNCI
Bahasa Nonbaku; Dinamika Bahasa; Komunikasi Akademik; Mahasiswa Universitas Andalas; Variasi Bahasa.

PENDAHULUAN
Bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, serta keinginan dalkam menyampaikan pendapat dan informasi. Selain itu, bahasa juga memiliki sifat sosial karena digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai sarana interaksi. Dalam konteks masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa nasional yang berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus penyampai informasi. Secara umum, bahasa dapat didefinisikan sebagai sistem lambang yang dihasilkan oleh alat bicara manusia, sedangkan menurut Mansoer Pateda (1987:4), bahasa merupakan saluran untuk menyampaikan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diketahui seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, bahasa memungkinkan manusia untuk bekerja sama dan berinteraksi sebagai makhluk sosial.
Sebagai warga Negara Indonesia seharusnya mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa memandang dari generasi apa orang tersebut dan menjadi sebuah keharusan karena dalam kedudukannya bahasa Indonesia sebagai bahasa kebanggaan nasional, identitas nasional dan alat pemersatu bangsa. Bahkan kedudukan bahasa Indonesia dijelaskan pada UUD 1945 pasal 36 mengenai kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa remi kenegaraan, pengantar dalam pendidikan alat penghubung tingkat nasional dan alat pengembangan kebudayaan dan IPTEK. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar memiliki arti yang berbeda. Bahasa Indonesia yang baik artinya bahasa Indonesia yang digunakan hanya sebatas dapat dipahami orang lain sebagai mitra tuturnya. Di dalam konteks ini, masyarakat tutur tidak mempersoalkan kaidah kebahasaan karena hal yang utama yang menjadi krusial adalah makna tersampaikan dengan baik. Sementara itu, bahasa Indonesia yang benar artinya penggunaan bahasa Indonesia sudah sesuai dengan kaidah EYD yang berlaku. Pada perkembangan dunia saat ini, penggunaan bahasa baku dan tidak baku pada masyarakat sangat rancu terutama pada kalangan mahasiswa yang melakukan kesalahan-kesalahan saat menempatkan kata baku dan baku dengan tepat. Hal ini sering tidak disadari oleh mahasiswa saat berkomunikasi satu sama lain sehingga secara tidak langsung proses berkomunikasi akan terhambat. Terkait dengan faktor kebahasaan, Asruni Samad, dkk., (2020) pernah mengatakan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa gaul, singkatan-singkatan dalam komunikasinya sehari-hari yang merupakan bentuk penyimpangan dari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kehadiran penulisan kata-kata yang baku dan tidak baku menjadi sebuah keharusan mengingat secara sosial masyarakat tutur kita sangat beragam. Secara teoretis dan praktis, fungsi ragam baku itu sebagai upaya menghadapi kediaglosian masyarakat. Fenomena inilah yang menjadi latar belakang penelitian ini, yaitu Fenomena penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas sebagai bentuk dinamika bahasa, serta menganalisis pengaruh penggunaan bahasa gaul dan bahasa daerah terhadap kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa dalam komunikasi sehari-hari. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini merumuskan empat pertanyaan utama: (1) Bagaimana ketidaktepatan penggunaan bahasa nonbaku dalam tugas, kepenulisan, dan komunikasi akademik mempengaruhi kualitas penyampaian gagasan? (2) bagaimana pengaruh budaya barat terhadap gaya bahasa mahasiswa yang menganggap penggunaan bahasa campuran Indonesia dan Inggris Adalah “trend”? (3) Bagaimana penggunaan Bahasa daerah mempengaruhi efektivitas komunikasi antar mahasiswa yang berasal dari latar budaya berbeda? (4) Bagaimana dinamika penggunaan bahasa nonbaku berkaitan dengan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional? Dalam proses belajar kebahasaan mahasiswa dapat mengasah kemampuannya dalam berbahasa sehingga akan meminimalisasikan kesalahan-kesalahan selama melakukan kegiatan berbahasa dan komunikasi. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan penggunaan bahasa nonbaku yang berjudul “Fenomena Penggunaan Bahasa Nonbaku Sebagai Bentuk Dinamika Bahasa di Lingkungan Mahasiswa Universitas Andalas.

TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian tentang penggunaan bahasa di kalangan akademis sering kali menyoroti perbedaan antara bahasa baku dan bahasa nonbaku sebagai fenomena penting dalam kehidupan mahasiswa. Penggunaan bahasa nonbaku tidak hanya dipandang sebagai bentuk penyimpangan terhadap bahasa Indonesia yang baku, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, serta perkembangan teknologi komunikasi.
Syafriani Ulfa Meutya (2023) dalam penelitiannya di Universitas Andalas menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam membedakan bahasa baku dan bahasa tidak baku sangat penting dalam penguasaan bahasa Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui penyebaran kuesioner untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa terhadap kaidah bahasa baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa tidak baku cukup dominan dalam komunikasi mahasiswa sehari-hari. Namun, penelitian tersebut masih berfokus pada aspek normatif, yaitu melihat bahasa tidak baku sebagai bentuk kurangnya pemahaman terhadap bahasa baku, sehingga belum banyak membahas faktor sosial dan budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan kampus.
Transformasi teknologi dan perkembangan media sosial juga memberikan pengaruh besar terhadap perubahan bahasa melalui munculnya bahasa gaul. Ridlo dkk. (2021) menjelaskan bahwa bahasa gaul merupakan bentuk adaptasi bahasa yang berkembang sesuai perubahan zaman dan lingkungan sosial mahasiswa. Bahasa gaul digunakan sebagai sarana komunikasi yang lebih santai, ekspresif, dan mampu mempererat hubungan sosial antarmahasiswa. Akan tetapi, penggunaan bahasa gaul yang terlalu dominan dinilai dapat memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam situasi formal. Penelitian tersebut dilakukan pada mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dengan pendekatan campuran, yaitu kuantitatif dan kualitatif.
N. Anggini dkk. (2022) menyoroti bahwa fenomena bahasa gaul pada generasi muda merupakan bagian dari kajian sosiolinguistik yang dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, lingkungan pergaulan, usia, dan media sosial. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa bahasa seseorang berkembang mengikuti dinamika masyarakat dan perubahan komunikasi modern. Bahasa gaul dipandang sebagai variasi bahasa yang muncul secara alami di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara untuk melihat pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia di kalangan generasi muda.
Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa memiliki hubungan yang erat dengan sikap dan identitas sosial penuturnya. Evon Kurnia Sari dkk. (2025) menjelaskan bahwa penggunaan bahasa gaul berkaitan dengan sikap kognitif, afektif, dan konatif mahasiswa terhadap bahasa Indonesia. Sikap tersebut tercermin dalam interaksi mahasiswa, baik dalam komunikasi langsung maupun melalui media sosial. Penelitian tersebut lebih menitikberatkan pada pengaruh bahasa gaul terhadap sikap berbahasa mahasiswa. Sementara itu, penelitian yang akan dilakukan lebih bersifat eksploratif-deskriptif dengan fokus pada fungsi sosial, variasi, serta makna penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi sehari-hari mahasiswa. Penelitian ini juga memandang bahasa nonbaku sebagai bagian dari dinamika bahasa yang berkembang secara alami dalam komunitas akademik.
Selain itu, kualitas penggunaan bahasa Indonesia di tengah maraknya bahasa gaul juga menjadi perhatian dalam bidang pendidikan. Uswatun Hasanah (2025) menunjukkan bahwa penggunaan bahasa gaul dapat memengaruhi kualitas tata bahasa mahasiswa, terutama dalam konteks akademik dan formal. Penelitian tersebut lebih bersifat normatif karena bertujuan mencari solusi untuk meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan mahasiswa. Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini memandang bahasa nonbaku sebagai bentuk kreativitas, identitas sosial, dan dinamika bahasa yang wajar di lingkungan mahasiswa. Dengan fokus penelitian di Universitas Andalas, penelitian ini juga mempertimbangkan pengaruh budaya lokal Minangkabau terhadap bentuk dan fungsi bahasa nonbaku yang digunakan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, fenoma penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, lingkungan pergaulan, serta budaya lokal. Namun, masih terdapat beberapa kesenjangan penelitian yang belum terjawab. Pertama, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada pengaruh negatif bahasa gaul terhadap kemampuan berbahasa Indonesia yang baku, sehingga bahasa nonbaku cenderung dipandang sebagai bentuk penyimpangan bahasa. Kedua, penelitian sebelumnya umumnya dilakukan secara luas dan umum pada berbagai universitas di Indonesia, sehingga belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji fenomena penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan Universitas Andalas dengan karakteristik budaya Minangkabau yang khas. Ketiga, mayoritas penelitian terdahulu lebih menekankan pada aspek kemampuan atau sikap berbahasa mahasiswa, sedangkan penelitian mengenai fungsi sosial, variasi bahasa, dan dinamika penggunaan bahasa nonbaku dalam interaksi mahasiswa masih terbatas.
Dengan kesenjangan tersebut, penelitian ini hadir untuk mengkaji fenomena penggunaan bahasa nonbaku sebagai bentuk dinamika bahasa di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas. Penelitian ini tidak hanya melihat bahasa nonbaku sebagai bentuk penyimpangan terhadap bahasa baku, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh interaksi sosial, media digital, budaya kampus, serta budaya lokal Minangkabau. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bentuk, fungsi, serta dinamika penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan perguruan tinggi.

Baca Juga :  Rektor UIN Batusangkar Jadi Pembicara Utama pada Kegiatan Penguatan Pengawas Pemilu

METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Penelitian kuantitatif dipilih karena bertujuan memperoleh data dalam bentuk numerik mengenai fenomena penggunaan bahasa nonbaku sebagai bentuk dinamika Bahasa di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa Universitas Andalas secara online menggunakan aplikasi WhatsApp. Objek dalam penelitian ini adalah penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa Universitas Andalas. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi sehari-hari mahasiswa, baik dalam percakapan langsung maupun komunikasi melalui media sosial. Penelitian dilakukan di lingkungan Universitas Andalas dengan subjek penelitian berupa mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Andalas. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden melalui hasil pengisian kuesioner dan data sekunder yang berisi teori dan definisi yang bersumber dari kajian literatur, seperti buku, artikel, dan jurnal. Data penelitian ini berupa jawaban dari tujuh pertanyaan kepada mahasiswa Universitas Andalas yang berkaitan dengan frekuensi penggunaan bahasa nonbaku, faktor penyebab penggunaan bahasa nonbaku, bentuk-bentuk bahasa nonbaku yang sering digunakan, serta dampak penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi mahasiswa dalam lingkungan akademik maupun nonakademik.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui penyebaran tautan kuesioner secara daring melalui aplikasi WhatsApp kepada mahasiswa Universitas Andalas. Responden diminta mengisi pertanyaan di kuesioner melalui google form sesuai dengan pengalaman dan pandangan mereka mengenai penggunaan bahasa nonbaku. Pengumpulan data dilakukan selama periode penelitian hingga jumlah data yang dibutuhkan terpenuhi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif. Data yang telah diperoleh dari hasil kuesioner diklasifikasikan, dihitung, dan di analisis berdasarkan persentase jawaban responden. Hasil analisis data di sajikan dalam bentuk diagram dan uraikan deskriptif untuk mempermudah pemahaman terhadap hasil penelitian. Melalui teknik analisis ini, di harapkan penelitian dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai fenomena penggunaan bahasa nonbaku sebagai bentuk dinamika bahasa di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas.

HASIL/TEMUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Andalas melalui penyebaran kuesioner berbasis Google Form. Data di peroleh dari 73 jawaban mahasiswa Universitas Andalas, mengenai penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi baik dalam lingkungan akademik maupun nonakademik.

Baca Juga :  Sikerei Mentawai: Penjaga Kearifan Spiritual dan Kebudayaan

Gambar 1. Diagram frekuensi penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi mahasiswa.
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, mayoritas mahasiswa Universitas Andalas menyatakan sering menggunakan bahasa nonbaku dalam komunikasi di lingkungan kampus dengan persentase sebesar 61,6%, sedangkan 28,8% responden menyatakan sangat sering menggunakan bahasa nonbaku. Sementara itu, responden yang memilih kategori kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah memiliki persentase yang relatif lebih kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi lisan maupun tulisan di lingkungan kampus memiliki tingkat frekuensi yang tinggi di kalangan mahasiswa.

Gambar 2. Diagram situasi penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan kampus
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, penggunaan bahasa nonbaku paling banyak dilakukan mahasiswa Universitas Andalas saat berbicara dengan teman di lingkungan akademik dengan persentase sebesar 97,3%. Sementara itu, penggunaan bahasa nonbaku pada komunikasi dalam chat grup kuliah, presentasi, dan komunikasi dengan dosen memiliki persentase yang lebih rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku lebih dominan pada komunikasi antarteman dibandingkan pada bentuk komunikasi akademik lainnya.

Gambar 3. Diagram faktor penyebab penggunaan bahasa nonbaku
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, faktor yang paling banyak disebut mahasiswa Universitas Andalas sebagai penyebab penggunaan bahasa nonbaku dalam situasi formal akademik adalah kebiasaan sehari-hari dengan persentase sebesar 46,6%. Selain itu, 37% responden menyatakan bahwa penggunaan bahasa nonbaku dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau pertemanan. Faktor lain, seperti pengaruh media sosial, penggunaan bahasa daerah, dan kurangnya pemahaman terhadap bahasa baku, memiliki persentase yang relatif lebih rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan sehari-hari dan lingkungan sosial menjadi faktor yang paling dominan dalam penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan akademik.

Gambar 4. Diagram bentuk bahasa nonbaku yang sering digunakan mahasiswa
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, bentuk bahasa nonbaku yang paling sering digunakan mahasiswa Universitas Andalas dalam komunikasi dengan teman kampus adalah campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan persentase sebesar 34,2%. Selanjutnya, sebanyak 31,5% responden menggunakan bahasa gaul atau slang, sedangkan 27,4% responden menggunakan singkatan kata, seperti “gk”, “ygy”, dan “btw”. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa terdiri atas beberapa variasi bentuk bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan kampus.

Gambar 5. Diagram pengaruh lingkungan pertemanan dan media sosial terhadap penggunaan bahasa nonbaku
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, mayoritas mahasiswa Universitas Andalas menyatakan bahwa lingkungan pertemanan dan media sosial memengaruhi penggunaan bahasa nonbaku. Sebanyak 45,2% responden memilih kategori “Sangat berpengaruh”, sedangkan 39,7% responden memilih kategori “Berpengaruh”. Sementara itu, responden yang menyatakan pengaruh tersebut rendah atau tidak berpengaruh memiliki persentase yang relatif kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan dan media sosial menjadi faktor yang paling banyak disebut dalam penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa.

Gambar 6. Diagram dampak penggunaan Bahasa nonbaku dalam komunikasi mahasiswa
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, sebanyak 53,4% mahasiswa Universitas Andalas menyatakan bahwa penggunaan bahasa nonbaku dapat membuat suasana komunikasi menjadi lebih akrab. Selain itu, 19,2% responden menyatakan bahwa penggunaan bahasa nonbaku dapat menurunkan penggunaan bahasa baku, sedangkan 12,3% responden menyebutkan bahwa bahasa nonbaku mempermudah komunikasi. Data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki berbagai pandangan terkait dampak penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan kampus.

Gambar 7. Diagram pandangan mahasiswa terhadap pengurangan penggunaan Bahasa nonbaku dalam situasi formal
Sumber: Hasil kuesioner penelitian, 2026
Berdasarkan hasil kuesioner, mayoritas mahasiswa Universitas Andalas menyatakan bahwa penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan akademik perlu dikurangi dalam situasi formal. Sebanyak 45,2% responden memilih kategori “Perlu”, 28% memilih “Sangat perlu”, dan 20% memilih “Cukup perlu”. Sementara itu, responden yang menyatakan penggunaan bahasa nonbaku tidak perlu dikurangi memiliki persentase yang relatif kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai penggunaan bahasa nonbaku dalam situasi formal akademik perlu dibatasi.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Andalas, penggunaan bahasa nonbaku dalam komunikasi sehari-hari menunjukkan tingkat frekuensi yang cukup tinggi. Mayoritas responden menyatakan sering bahkan sangat sering menggunakan bahasa nonbaku dalam interaksi di lingkungan kampus. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa nonbaku telah menjadi bagian dari dinamika komunikasi mahasiswa dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Penggunaan bahasa nonbaku pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa mahasiswa, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan sosial, budaya, dan teknologi komunikasi yang terus berubah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku paling dominan terjadi dalam komunikasi antarteman di lingkungan akademik. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan ragam bahasa yang lebih santai dan akrab ketika berinteraksi dengan teman sebaya. Penggunaan bahasa nonbaku dianggap mampu menciptakan suasana yang lebih dekat, fleksibel, dan tidak kaku dalam interaksi sehari-hari mahasiswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ridlo dkk. (2021) yang menyatakan bahwa bahasa gaul digunakan mahasiswa sebagai sarana komunikasi yang lebih ekspresif dan mampu mempererat hubungan sosial antarmahasiswa.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa kebiasaan sehari-hari dan lingkungan sosial menjadi faktor utama yang memengaruhi penggunaan bahasa nonbaku di kalangan mahasiswa Universitas Andalas. Kebiasaan menggunakan bahasa nonbaku secara terus-menerus menyebabkan mahasiswa terbawa menggunakan bahasa tersebut, bahkan dalam situasi formal akademik. Lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh yang besar karena mahasiswa cenderung mengikuti pola bahasa yang digunakan dalam kelompok sosialnya. Temuan ini sesuai dengan pendapat N. Anggini dkk. (2022) yang menjelaskan bahwa perkembangan bahasa seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, usia, dan media sosial. Dengan demikian, penggunaan bahasa nonbaku tidak dapat dipisahkan dari dinamika pergaulan mahasiswa di era digital.
Pengaruh media sosial juga menjadi salah satu faktor penting dalam berkembangnya penggunaan bahasa nonbaku. Media sosial menghadirkan berbagai bentuk bahasa baru, seperti singkatan, campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta penggunaan istilah populer yang cepat menyebar di kalangan mahasiswa. Kehadiran media sosial secara tidak langsung mempercepat perubahan bahasa dan menciptakan variasi bahasa baru yang lebih mudah digunakan dalam komunikasi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa bentuk bahasa nonbaku yang paling sering digunakan mahasiswa adalah campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari menjadi bentuk identitas sosial dan budaya mahasiswa. Selain itu, penggunaan bahasa gaul dan singkatan kata juga cukup dominan. Variasi bahasa tersebut memperlihatkan bahwa bahasa nonbaku berkembang secara alami sesuai dengan kebutuhan komunikasi mahasiswa. Dalam perspektif sosiolinguistik, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman.
Di sisi lain, penggunaan bahasa nonbaku juga memiliki dampak terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Sebagian responden menyatakan bahwa penggunaan bahasa nonbaku dapat menurunkan kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam situasi akademik formal seperti presentasi, penulisan tugas, maupun komunikasi dengan dosen. Kondisi ini menunjukkan bahwa mahasiswa terkadang mengalami kesulitan dalam membedakan penggunaan bahasa sesuai konteks formal dan nonformal. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Uswatun Hasanah (2025) yang menyatakan bahwa penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat memengaruhi kualitas tata bahasa mahasiswa dalam lingkungan akademik.
Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa memandang penggunaan bahasa nonbaku memiliki dampak positif dalam membangun keakraban dan mempermudah komunikasi. Bahasa nonbaku dianggap mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih santai sehingga interaksi sosial menjadi lebih nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa nonbaku tidak sepenuhnya dipandang sebagai bentuk penyimpangan bahasa, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika komunikasi mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar mahasiswa Universitas Andalas berpendapat bahwa penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan akademik perlu dikurangi dalam situasi formal. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki kesadaran terhadap pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam konteks akademik. Dengan demikian, penggunaan bahasa nonbaku sebaiknya ditempatkan sesuai situasi dan kebutuhan komunikasi, penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas merupakan bagian dari dinamika bahasa yang dipengaruhi oleh perkembangan media sosial, lingkungan sosial, budaya lokal, serta perubahan pola komunikasi generasi muda.

Baca Juga :  Kerugian Akibat Galodo di Tanah Datar Diperkirakan Rp. 500 Milyar

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan mahasiswa Universitas Andalas menunjukkan intensitas yang cukup tinggi dan telah menjadi bagian dari dinamika komunikasi sehari-hari. Penggunaan bahasa nonbaku lebih dominan dalam interaksi antarmahasiswa karena dinilai mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih santai, akrab, dan komunikatif. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kebiasaan sehari-hari, lingkungan sosial, perkembangan media sosial, serta penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan kampus. Bentuk bahasa nonbaku yang paling sering digunakan meliputi campuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, bahasa gaul, dan penggunaan singkatan populer. Secara teoretis, penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, serta pola komunikasi generasi muda. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menempatkan penggunaan bahasa sesuai dengan konteks komunikasi, khususnya dalam situasi akademik formal yang menuntut penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Di sisi lain, penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa nonbaku tidak sepenuhnya berdampak negatif karena dapat mempererat hubungan sosial dan mempermudah komunikasi antarmahasiswa. Namun, penggunaan yang terlalu dominan berpotensi memengaruhi kualitas penggunaan bahasa baku dalam lingkungan akademik. Namun, Penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada mahasiswa Universitas Andalas dengan jumlah responden yang terbatas serta menggunakan metode survei berbasis kuesioner, sehingga belum mampu menggambarkan fenomena penggunaan bahasa nonbaku secara lebih mendalam. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan cakupan responden yang lebih luas dan menggunakan metode penelitian yang lebih variatif, seperti wawancara maupun observasi langsung, agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika penggunaan bahasa nonbaku di lingkungan mahasiswa.

REFERENSI
Anggini, P., dkk. (2022). Perkembangan teknologi dan adaptasi bahasa baku menjadi ragam slang di kalangan generasi muda. Jurnal Bahasa dan Budaya, 10(2), 115–125.
Hutagalung, R. (2023). Pengaruh penggunaan media pembelajaran interaktif terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Medan. ArtLib: Jurnal Pengabdian Masyarakat Seni dan Budaya, 1(1).
Hasanah, N. (2025). Fenomena bahasa informal di ranah akademik dan tantangannya terhadap kedudukan bahasa Indonesia sebagai simbol nasional. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 13(1), 45–58.
Karisma, A., Srimularahma, A., & Fitriana, I. (2025). Analisis penggunaan variasi bahasa dalam grup WhatsApp mahasiswa angkatan 2021 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4).
Meutya, S. U. (2023). Peningkatan kemampuan mahasiswa dalam membedakan bahasa baku dan bahasa tidak baku di Universitas Andalas. Jurnal Pendidikan Bahasa, 13(1), 20–28.
Priscilia, A., Kusmana, A., Mukhoiyaroh, B. S. E., & Purba, A. (2025). Pengaruh penggunaan bahasa gaul pada media sosial terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks akademik di kalangan mahasiswa prodi Bahasa Indonesia. Jurnal Basataka, 8(2).
Ramadhanti, A. I., Amilia, F., & Suaedi, H. (2024). Variasi bahasa dalam bahasa gaul di media sosial: Sosiolinguistik. AN-NAS: Jurnal Humaniora, 8(2).
Ridlo, M. R., dkk. (2021). Pengaruh media sosial terhadap pergeseran orientasi berbahasa generasi muda di era modern. Jurnal Komunikasi dan Bahasa, 7(2), 89–102.
Rohmah, F. A., & Saniro, R. K. K. (2023). Penguasaan bahasa baku bahasa Indonesia dalam lingkungan mahasiswa asrama Universitas Andalas tahun 2023. Jurnal Pendidikan Bahasa, 13(1).
Sari, R. P., dkk. (2025). Bahasa sebagai identitas sosial dan pengaruh lingkungan budaya lokal dalam komunikasi antarbudaya mahasiswa. Jurnal Kebahasaan dan Kebudayaan, 14(1), 67–80.
Sianturi, J. G., Salfa, Q. A., Hutauruk, P. I., & Pramesty, S. S. (2024). Analisis penggunaan bahasa gaul pada kalangan mahasiswa. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2(5).
Silalahi, F. V. B. B., Firdaus, R. S. A., Meutia, A. Z., & Perawati. (2024). Kemampuan mahasiswa Universitas Riau dalam membedakan kata baku dan tidak baku. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3).