Batusangkar, Jurnal Minang. Sejarah pendidikan Sumatera Barat kembali menorehkan tinta emas. Putra terbaik dari Nagari Mungo, Kabupaten Lima Puluh Kota, Prof. Dr. H. Asmendri Chaidir, S.Ag., M.Pd., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Pendidikan di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rabu (8/7/2026).
Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni akademik di Auditorium UIN Mahmud Yunus Batusangkar, melainkan titik tolak bagi lahirnya rekonstruksi pendidikan yang memadukan kecanggihan teknologi dengan akar kearifan lokal Minangkabau.
Rekam Jejak Sang Akademisi
Perjalanan Prof. Asmendri menuju puncak karier akademik merupakan kisah dedikasi tanpa henti. Sebagai seorang pakar di bidang Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, pemikiran beliau tidak hanya lahir di menara gading, tetapi ditempa melalui pengalaman praktis dan riset mendalam.
Kredibilitas beliau diakui secara nasional maupun internasional. Pengalaman beliau sebagai Visiting Scholar di Ohio State University, Amerika Serikat (2008-2009), telah membentuk cara pandang beliau dalam mengelola pendidikan secara global. Saat ini, beliau dipercaya sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta aktif menjadi Asesor Nasional BKD SISTER DIKTI dan Reviewer penelitian di Kementerian Agama RI.
Bagi Prof. Asmendri, gelar profesor bukanlah terminal akhir. Beliau memaknainya sebagai sebuah maklumat moral dan tanggung jawab kebudayaan untuk menawarkan solusi sistemik atas tantangan pendidikan di era disrupsi.
Pendidikan di Era Disrupsi: Antara AI dan Nilai Surau
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Rekonstruksi Manajemen Pendidikan Transformatif di Era Digital: Integrasi Strategis Kepemimpinan, Supervisi, dan Nilai Surau Berbasis ABS & SBK”, Prof. Asmendri membedah kegelisahan dunia pendidikan saat ini.
Beliau mencatat bahwa dunia tengah berada dalam pusaran The Great Shifting, di mana kehadiran AI, Big Data, dan IoT telah menggeser otoritas pengetahuan dari ruang kelas konvensional ke ruang digital global.
“Kita tidak boleh melahirkan generasi digital-native yang tercerabut dari identitas peradaban dan moralitas luhurnya sendiri,” tegas beliau dalam orasinya.
Menggali ‘Sistem Manajemen’ dari Surau
Satu gagasan paling segar yang ditawarkan Prof. Asmendri adalah reposisi Surau. Menurut beliau, Surau bukan sekadar artefak fisik masa lalu, melainkan sebuah ‘Sistem Manajemen Pendidikan Transformatif’ yang paripurna.
Di Surau, intellectual capital dianyam harmonis dengan spiritual capital dan social capital. Dalam pandangan beliau, Sumatera Barat memiliki modal kultural dahsyat bernama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang mampu menjadi kompas moral bagi pendidikan modern.
Tiga Pilar Transformasi Pendidikan
Untuk mengimplementasikan gagasan ini, Prof. Asmendri merumuskan tiga pilar strategis:
- Perencanaan Visioner-Adaptif: Perencanaan pendidikan bukan sekadar urusan teknokratis, melainkan proyeksi visi masa depan yang adaptif. Beliau menekankan pentingnya keterlibatan kolektif Tigo Tungku Sajarangan (Alim Ulama, Cadiak Pandai, dan Niniak Mamak) dalam menyusun cetak biru pendidikan yang kokoh di nilai lokal namun mampu menjawab tantangan global.
- Supervisi Humanis-Emansipatoris: Beliau mengusulkan dekonstruksi radikal terhadap supervisi pendidikan yang selama ini terjebak pada inspeksi administratif. Supervisi harus diubah menjadi proses emansipatoris yang memberdayakan, meneladani sosok ‘Guru Nan Tuo’ yang berperan sebagai mitra strategis, bukan sekadar pengawas yang menuntut kepatuhan.
- Kepemimpinan Transformasional Digital: Melalui studi kasus di Rumah Tahfidz Qur’an (RTQ) Surau Lakuak, Prof. Asmendri membuktikan bahwa kepemimpinan yang menggabungkan nilai religius dengan strategi manajemen kontemporer mampu merombak keterbatasan infrastruktur menjadi pusat keunggulan.
Warisan untuk Masa Depan
Karya-karya Prof. Asmendri, seperti buku Manajemen Pendidikan Transformatif dan Perencanaan Pendidikan Transformatif: Menuju Sekolah Masa Depan, menjadi bukti nyata semangat hilirisasi riset beliau.
Dengan kombinasi teori manajemen yang kuat, data riset bereputasi internasional, dan gaya bahasa yang praktis-aplikatif, Prof. Asmendri telah memposisikan dirinya sebagai intelektual yang terus merawat tradisi sembari memimpin masa depan.
Di akhir orasinya, beliau menitipkan pesan yang menggugah bagi seluruh pendidik di Sumatera Barat: Banamo guru gadang alah disandang, Tando amanah luhur mambangun nagari, Mari satukan struktur akal jo nilai surau nan takambang, Untuak pandidikan sumbar nan unggul dan basandikan syari.
Selamat kepada Prof.Dr.H.Asmendri, S.Ag, M.Pd. semoga tetap memberikan kontribusi akademik untuk dunia pendidikan. (Red.Jm)
