Batusangkar, Jurnal Minang. Akhirnya Jabatan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Tanah Datar diisi oleh Ustad Zulhelmi, S.Ag yang sebelumnya menjabat Kabid TK/SD Dinas Pendidikan Tanah Datar. Selain itu juga dilakukan pelantikan bersama dua orang Inspektur III dan IV pada Inspektorat Tanah Datar serta 7 Kepsek SD di Tanah Datar.
Pelantikan 3 orang pejabat eselon III/a serta 7 Kepsek dilakukan oleh Bupati Tanah Datar, Kamis, 24/9-2026 di gedung Indo Jalito Batusangkar.
Sebelum dilakukan pelantikan Kabag Kesra belakangan menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Hal itu dipicu oleh kenyataan bahwa dalam beberapa tahun terakhir sejumlah pejabat yang pernah mengemban amanah di bagian tersebut mengalami gangguan kesehatan serius, bahkan ada yang meninggal dunia.
Meski demikian, berbagai kalangan mengingatkan agar peristiwa tersebut tidak dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis, karena dalam ajaran Islam, jodoh, rezeki, dan maut merupakan ketetapan Allah SWT.
Pejabat pertama yang menjabat sebagai Kabag Kesra Setda Tanah Datar pada periode tersebut adalah almarhum Drs. Dadan Hendarsyah. Semasa bertugas, ia dikabarkan menderita sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Almarhum kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Sumedang, Jawa Barat.
Setelah itu, jabatan Kabag Kesra dipercayakan kepada Ali Nardius yang sebelumnya bertugas di Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar. Dalam perjalanan tugasnya, Ali Nardius juga mengalami gangguan kesehatan. Ia diketahui menderita penyakit liver dan harus menjalani perawatan intensif, termasuk terapi cuci darah akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di Padang Ganting.
Untuk memastikan pelayanan dan berbagai program di Bagian Kesra tetap berjalan, pemerintah daerah kemudian menunjuk Devino,S.Sos sebagai Pelaksana Harian (Plt) Kabag Kesra. Penunjukan tersebut dilakukan agar roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat tidak mengalami hambatan selama pejabat definitif berhalangan.
Tidak lama kemudian, jabatan Kabag Kesra kembali diisi oleh Afrizon sebagai pejabat definitif. Kehadirannya diharapkan mampu melanjutkan berbagai program kesejahteraan masyarakat yang menjadi tanggung jawab Bagian Kesra Setda Tanah Datar. Namun, seiring berjalannya waktu, Afrizon juga dikabarkan mengalami masalah kesehatan. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ia menderita sakit dan disarankan menjalani cuci darah sebagai bagian dari proses pengobatan yang dijalaninya. Akhirnya Tuhan berkehendak lain, beliau juga meninggal dunia dan dimakamkan di Sungayang.
Rangkaian peristiwa tersebut kemudian memunculkan berbagai tanggapan di tengah masyarakat. Sebagian mengaitkannya dengan anggapan bahwa jabatan Kabag Kesra Setda Tanah Datar merupakan posisi yang “angker”. Di sisi lain, banyak pula yang menilai bahwa musibah yang menimpa seseorang merupakan ujian hidup dan tidak semestinya dihubungkan dengan jabatan ataupun tempat tertentu tanpa dasar yang jelas.
Terlepas dari berbagai persepsi yang berkembang, masyarakat diimbau untuk menyikapi informasi tersebut secara bijaksana. Kesehatan setiap individu dipengaruhi oleh banyak faktor, sementara hidup dan mati adalah rahasia serta ketetapan Allah SWT. Pemerintah daerah pun diharapkan terus memberikan dukungan kepada para aparatur sipil negara yang sedang menjalani perawatan, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.
Menurut Ustad M.Yasin Banteni mengatakan, dalam pandangan syariat Islam, menyikapi rangkaian peristiwa sakit atau wafatnya para pejabat Kabag Kesra Tanah Datar harus didasarkan pada fondasi akidah tauhid yang lurus. Islam melarang keras mengaitkan musibah, penyakit, atau kematian dengan anggapan tempat/jabatan yang “angker”, “sial”, atau membawa kutukan. (Kasdi Ray/Red.JM)
