Oleh: Basrizal Dt. Panghulu Basa
(Pendiri LBH Pusako)
“Tasingguang labiah bak kanai, tataruang labiah bak talantuang.” Pepatah ini terasa semakin relevan ketika kekuasaan mulai kehilangan kepekaan, pemimpin mulai kehilangan rasa malu, dan masyarakat mulai dibiasakan menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang biasa. Dalam kehidupan sosial, yang paling berbahaya bukan hanya pemimpin yang zalim, tetapi masyarakat yang terlalu lama membiarkan kezaliman.
Pemimpin yang benar-benar memahami amanah tidak akan alergi terhadap kritik. Ia tahu, kritik bukan ancaman terhadap kekuasaan, melainkan alarm bagi kekuasaan agar tidak tersesat. Tetapi ketika seorang pemimpin merasa dirinya selalu benar, kritik dianggap penghinaan. Ketika kekuasaan terlalu lama dipuji, suara rakyat yang berbeda mulai dianggap sebagai gangguan. Di situlah demokrasi mulai kehilangan rohnya. Yang berkuasa merasa tidak boleh disalahkan. Yang berbeda dianggap melawan. Yang mengkritik dicurigai. Yang memuji diberi tempat.
Akhirnya, kekuasaan tidak lagi dikelilingi orang-orang yang berkata benar, tetapi orang-orang yang pandai mengatakan apa yang ingin didengar penguasa. Padahal dalam tradisi kita, seorang pemimpin bukanlah orang yang harus selalu dibenarkan.
“Didahulukan salangkah, ditinggikan saranting.” Didahulukan bukan berarti dipertuhankan. Ditinggikan bukan berarti tidak boleh ditegur. Pemimpin tetap manusia. Kekuasaan tetap sementara. Jabatan tetap akan berakhir. Yang akan tinggal hanyalah jejak kebijakan, luka yang ditinggalkan, dan manfaat yang pernah diberikan.
Karena itu, jangan gunakan kekuasaan untuk membungkam suara yang berbeda. Jangan jadikan jabatan sebagai pagar untuk melindungi kesalahan. Jangan gunakan pengaruh untuk mengubah kebohongan menjadi seolah-olah kebenaran. Kekuasaan yang takut pada kritik sesungguhnya sedang takut bercermin. Dan masyarakat pun harus belajar.
Jangan mudah tersinggung ketika kepentingan kita disentuh. Jangan menganggap semua kritik sebagai kebencian. Jangan pula menjadikan loyalitas kepada seseorang lebih tinggi daripada loyalitas kepada kebenaran, apalagi melebihi ketaatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Sebab masyarakat yang hanya berani memuji akan melahirkan pemimpin yang mabuk pujian. Sebaliknya, masyarakat yang berani berkata benar akan membantu melahirkan pemimpin yang tahu batas antara kewenangan dan kesewenang-wenangan.
Maka pepatah ini bukan sekadar tentang orang yang tersinggung. Ia adalah peringatan keras tentang ego manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan. Jangan karena memiliki jabatan lalu merasa paling tahu. Jangan karena memiliki uang lalu merasa paling berharga. Jangan karena memiliki massa lalu merasa paling benar. Dan jangan karena memiliki kekuasaan lalu mengira rakyat harus selalu diam.
Rakyat bukan penonton. Pemimpin bukan penguasa mutlak. Jabatan bukan milik pribadi. Kekuasaan bukan warisan keluarga.
Dan negara bukan panggung untuk mempertontonkan kesombongan.
Pemimpin yang besar bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Pemimpin yang kuat bukan yang mampu membungkam kritik, tetapi yang mampu mendengar suara yang paling tidak menyenangkannya.
Dan pemimpin yang bermartabat bukan yang selalu dipuji, tetapi yang tetap memilih kebenaran ketika pujian sudah tidak ada.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak bertanya:
“Berapa lama engkau berkuasa?”
Sejarah akan bertanya: “Apa yang engkau lakukan dengan kekuasaanmu?”
Maka jangan sampai ketika sedang berkuasa kita membuat terlalu banyak orang tasingguang dan tataruang, lalu ketika kekuasaan berakhir, kita baru sadar bahwa yang tersisa bukanlah kehormatan, melainkan luka dan kekecewaan. Kekuasaan akan berlalu.
Jabatan akan berganti. Pujian akan hilang. Tetapi akibat dari sebuah keputusan bisa hidup jauh lebih lama daripada orang yang membuatnya. Karena itu, Jadilah pemimpin yang ditakuti oleh kesalahan sendiri, bukan pemimpin yang membuat rakyat takut menyampaikan kebenaran. (*)
Sumber gambar: Tiktok Saluak Kreasi.
