Batusangkar, Jurnal Minang. Anak Nagari Simawang Kecamatan Rambatan kab.Tanah Datar, M. Nur Idris, SH, MH mengatakan, tanah ulayat Simawang bukan sekadar hamparan tanah, tetapi amanah yang diwariskan oleh para leluhur kepada anak cucu pada masa mendatang.
Hari ini kita hanya dititipi, bukan memiliki untuk dihabiskan. Tugas kita adalah menjaga, mempertahankan, dan memperjuangkannya agar tetap utuh untuk anak cucu yang akan lahir di masa depan.
Mempertahankan tanah ulayat adalah hutang moral, hutang adat, dan bentuk pertanggungjawaban kita kepada generasi penerus. Jangan sampai karena kelalaian hari ini, anak cucu kehilangan hak yang telah dijaga dengan darah, keringat, dan pengorbanan para pendahulu.
Kok panek baranti, kok hauih minum. Pantang manyarah, apolai babaliak arah. Tagak sahatokan, duduak sapamanggangan. Tabujua lalu, tabalintang patah.
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Marwah Nagari, Manjago Pusako. Mari teguh pendirian mempertahankan tanah ulayat demi masa depan anak cucu, ujar M.Nur Idris,SH,MH. (Kasdi Ray/Red.Jm)
