Oleh: Sts.Dt.Rajo lndo, S.H, M.H.
Diliek lipek indak barubah, kok dibukak lah tambuak tiok ragi. Hal tersebut bisa di antara Panghulu Adat kito disebabkan karena sudah ada yang terlena. Panghulu yang terlena anak kamanakan yang tidak berdaya. Karena itu Pengangkatan Panghulu Adat yang belum cukup umur atau anak-anak yang diangkat menjadi pimpinan. Mengangkat Panghulu Adat yang belum baligh belum berakal, belum berumur 17 th tidaklah tepat.
Apalagi dewasa ini tidak ada anak balita yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya dari lulusan SMA. Karena itu demi kualitas, harkat dan martabat serta harga diri dan kesaktian Panghulu Adat. Maka syarat untuk jadi Panghulu adat sudah banyak yang diterapkan orang di atas 16 th. Sebab orang yang berumur diatas 16 th itu akan dapat dengan cepat mengetahui adat, minimal menguasai tonggak sejarah adat alam Minangkabau.
Adat Minangkabau tidak ubahnya suatu bangunan. Setiap bangunan akan kokoh tegaknya jika punya tonggak. Oleh karena itu tiap bangunan yang tidak bertonggak gampang tumbang (tumbang adat Minang kabau). Tonggak sejarah adat Minangkabau itu sesungguhnya tidaklah banyak. Hal itu sebagaimana disajikan oleh adat nan “Sabatang panjang”. Adat 4, Nagari 4, hukum 4, kato 4, undang 4 dan cupak nan 2 (duo).
Adat nan 4 itu. 1.Adat nan sabananyo adat adalah yang sifatnya bertolak dari sunatullah. Sebagai contoh, sifat ayie membasahi, sifat api membaka. Yang ke-2, Adat nan teradat adalah yang dibuat Dt.Katumangguangan jo Dt.Prapatieh Sabatang, contohnya ketek banamo, gadang bagala, iduik batampek mati bakubua.
Yang no. 1 dan no.2 ini disebut adat babuhua mati. Dibubuik indak layua dianjak in dak mati.
Sedangkan yang ke-3 adalah adat istiadat. Adat istiadat adalah yang bernuansa kesenian, dibuat oleh seniman dengan sifatnya menyenangkan. Sebagai contohnya badendang jo basaluang, rabab, kucapi, randai dll sejenisnya. Adapun yang ke- 4 adat nan diadatkan. Adat nan diadatkan ini yang dibuat oleh Datuak-Datuak, cadiak pandai dan tokoh-tokoh masyarakat Nagari.
Yang No.3 dan No.4 ini kedudukannya adalah adat “Salingka Nagari”. Adat Salingka Nagari disebut adat nan babuhua sintak. Adat nan babuhua sintak tersebut sebagaimana dinyatakan mamang adat yang berbunyi;
Masaklah padi rang Singkarak, masak nyo batangkai-tangakai, Satangkai jarang ado nan mudo — Kabek sabalik babuhua sintak, jarang urang nan maungkai, kok tibo maso rarak sandirinyo….. (bersambung)
