Mitigasi Bencana Kebakaran di Minangkabau: Sebuah Kearifan Lokal di Pariangan

Oleh: Irwan Malin Basa. (Dosen UIN Batusangkar & TACB di Kab. Tanah Datar)

Pariangan dikenal sebagai Nagari Tuo dan diyakini sebagai daerah asal usul nenek moyang orang Minang. Di nagari Pariangan masih tersimpan berbagai bukti peninggalan sejarah dan budaya seperti Kuburan Panjang, Balai Saruang, Sawah Gadang Satampang Baniah, Rumah Adat dan berbagai bukti peninggalan sejarah dan budaya lainnya.

Selain bukti peninggalan dalam bentuk fisik tersebut, masyarakat Pariangan juga memiliki berbagai kearifan lokal (local wisdom) serta pengetahuan dan teknologi tradisional. Salah satu kearifan lokal masyarakat di Pariangan adalah bagaimana menghadapi bahaya kebakaran jika terjadi di tengah masyarakat.

Berdasarkan tuturan, pengetahuan serta memori publik (khususnya para tetua adat) di Pariangan bahwa dahulunya di Pariangan ada Parian Api yang digunakan untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran.

Mengenal Parian Api

Parian adalah sebuah bejana penyimpanan air yang terbuat dari bambu yang cukup besar. Panjangnya kira kira tiga sampai empat ruas bambu (sekitar 2 – 3 Meter). Ruas bambu bagian kedalam dibuang sehingga masing-masing ruang bisa tembus. Yang tertinggi hanyalah ruas bagian paling bawah sehingga air tidak tumpah.

Setiap masyarakat pergi ke sungai atau ke pancuran, mereka membawa air dan memasukkan nya kedalam Parian tersebut. Parian Api diletakkan atau disandarkan di dinding rumah di bagian luar. Jumlahnya bisa tiga, empat atau lima buah Parian.

Ketika terjadi kebakaran, maka siapapun boleh mengambil parian yang berisi air tersebut untuk memadamkan api. Kemudian mengisinya kembali. Jika persediaan air tidak cukup maka bisa diisi dengan air kolam ikan atau Tabek yang biasanya ada di halaman rumah masyarakat.

Kita bisa membayangkan jika ada 100 unit rumah dalam satu jorong, maka sudah ada kira kira 300 Parian Api yang berisi air sebagai usaha awal untuk pencegahan kebakaran.

Baca Juga :  Minangkabau Pernah Punya Mata Uang Sendiri

Namun, kini Parian Api tidak lagi ditaruh masyarakat karena ketika terjadi kebakaran masyarakat bisa menelpon Badan Pemadam Kebakaran (BPK) di masing masing daerah. Dan jika kebakaran terjadi di dalam kota, biasanya sudah ada hidran sebagai sumber air yang tersedia.

Tentu kearifan lokal seperti ini patut dicontoh oleh masyarakat yang masih tinggal di perkampungan yang belum memiliki akses jalan yang cukup ketika terjadi kebakaran.

Selain Parian Api adapula masyarakat menggunakan batang pisang untuk mencegah kebakaran agar jangan meluas. Caranya adalah dengan meletakkan batang pisang di dinding rumah yang bersebelahan dengan rumah yang terbakar. Batang pisang mengandung air juga sehingga api tidak bisa menjalar.

Sebagian masyarakat adapula yang langsung melemparkan batang pisang sebanyak mungkin kedalam kobaran api sehingga api tidak membesar. (*)

Print Friendly, PDF & Email