Mengenal Istilah-istilah Lokal Minangkabau Tentang Bencana

Oleh: Irwan Malin Basa (Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar)

Beragam bencana melanda sebagian wilayah Indonesia hampir sepanjang tahun 2025 ini. Sebutlah bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumbar, Aceh dan Sumatera Utara. Ribuan korban meninggal dunia. Banyak harta benda yang hilang. Dampaknya luar biasa. Entah kapan akan pulih.

Namun ada sisi menarik yang perlu kita urai terkait istilah bencana tersebut. Sebab, istilah bencana semakin hari semakin canggih bahkan memakai istilah akademik yang sulit dimengerti. Biar lah istilah yang keren keren itu untuk kaum akademisi saja. Bagi saya, orang Minangkabau, tentu patut saya jelaskan beberapa istilah istilah bencana yang ada di Minangkabau.

Pertama, galodo. Istilah galodo sudah sangat familiar bagi masyarakat Minangkabau. Galodo adalah air besar disertai batu dan material lainnya yang datang dari hulu sungai maupun lereng bukit dan gunung. Tidak ada istilah banjir dan air bah dalam bahasa Minangkabau.

Kedua, tanah runtuah. Dari dahulu masyarakat Minang mengenal istilah tanah runtuah. Jika ada lereng tebing atau bukit yang runtuh, baik berdampak atau tidak ke rumah penduduk, maka masyarakat menyebutnya tanah runtuah. Tidak ada ditemukan istilan longsor dalam bahasa Minangkabau.

Ketiga, aia gadang. Istilah ini dipakai untuk air yang mengalir sangat besar baik di sungai maupun di dalam kampung melalui parit dan jalan jalan di dalam kampung. Jika debit air mengalir sudah besar atau tinggi volumenya dari biasa, maka masyarakat menyebutnya aia gadang, bukan banjir.

Keempat, api gadang. Ini untuk menyebut istilah kebakaran yang terjadi pada suatu tempat. Baik dalam kampung maupun di kebun, parak atau lokasi lainnya.

Kelima, angin kancang. Ini untuk menyebutkan bencana angin kencang yang biasanya membuat ketakutan bagi masyarakat. Kondisinya membuat pohon meliuk liuk, atap beterbangan, dan bunyi suara yang dikeluarkan mendahu dahu sehingga membuat ngeri orang yang mendengarnya.

Baca Juga :  Keluarga Besar IPDN Serahkan Bantuan Senilai Rp360 Juta untuk Korban Galodo di Tanah Datar

Angin kencang itupun banyak memiliki variasi kosa katanya. Misalnya, angin limbubu, angin badai, badai kariang, angin topan dan berbagai istilah lain di beberapa nagari yang berbeda. Tidak ada istilah puting beliung, tornado, apalagi istilah elnina dalam bahasa Minangkabau.

Keenam, hujan patuih. Ini adalah bencana hujan lebat yang disertai petir yang menjadi jadi. Suasana semakin mencekam dan kadangkala disertai angin kencang juga.

Ketujuh, kabuik marindiah. Yaitu kabut tebal yang turun dari bukit atau gunung sehingga seluruh kampung berselimut kabut. Jarak pandang terbatas. Suhu dingin. Disertai juga dengan hujan gerimis atau embun yang turun bersama kabut tersebut.

Istilah istilah bencana tersebut sudah dituturkan oleh nenek moyang orang Minangkabau sejak dahulu. Namun kita yang hidup di zaman modern ini sudah sering melupakan nya dan bahkan candu atau tagia memakai istilah asing tersebut. Mengapa?

Bersambung…..