Manyonsong Acara Batagak Panghulu Adat di Nagari Gurun (bagian 7)

Oleh: Sts.dt.Rajo lndo, S.H,.M.H

Penulis yakin diantara tujuan batagak Panghulu Adat yang akan digelar oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gurun adalah untuk mengembalikan kesaktian Panghulu. Kesaktian Panghulu Adat itu tidak banyak dimiliki oleh Panghulu Adat di Nagari lain. Namun yang tidak dimiliki orang lain itu di Nagari Gurun juga sudah sulit ditemui.

Untuk itu diharapkan acara "Batagak Gala Panghulu Adat" di Nagari Gurun ini berjalan lancar, aman dan sukses. Malah dido'akan pula tidak ada hambatan yang berarti. Semoga Panghulu Nan Sakti rang Gadang nan Batuah, Tuanku nan Kiramaik muncul kembali dalam kenagarian Gurun.

Dengan demikian bunyi mamang adat, Sajak daulu banamo Sikaladi,
rimbo dirambah jo musyawarah,
baitu warih nan dijawek,
dari Mamak ka kamanakan.
Daulu Panghulu banyak nan sakti
rang gadang banyak nan batuah,
tuanku banyak nan kiramaik,
kamano painyo sajak tahun 1976?

Bahwa dalam menjawab pertanyaan dari mamang adat tersebut diharapkan acara batagak Panghulu Adat di Nagari Gurun ini dapat menjadi pilot pro yek. Justru ketua KAN Gurun Febby Dt. Bangso Nan Putieh atau Dt.Bangso yang sudah berwawasan nasional sudah menetap di kampung.

Total Panghulu Adat sebagai Sako atau simbol kepemimpinan dan kewibawaan kaum pada daerah ini hanya 169 unit. Di Korong Gurun 99, di Ampalu Godang 54, di Sitakuak 10 dan di Luhak Godang 6 Panghulu Adat itu. Namun yang dikukuhkan sebagian kecil saja. Entah kalau ada Sako yang dibuat baru menurut adat yang berlaku disebut Panghulu “Bungo bakarang”.

Kendatipun ada gala “Bungo bakarang” itu yang kesaktian Panghulu Adat itu belum tentu akan kembali sepenuhnya. Kecuali diawali pengembalian harga diri Panghulu Adat itu terlebih dahulu. Harga diri Panghulu Adat tersebut sangatlah penting artinya yang ditunjang oleh martabat dan kharismanya masing-masing.

Baca Juga :  Balai Bahasa Provinsi Sumbar Selenggarakan Konsinyasi Penyusunan Modul Pembelajaran Revitalisasi Bahasa Daerah

Jika hal ini tidak diwujudkan maka besar kemungkinan Panghulu/Datuok yang dilahirkan itu jauh dari wibawanya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Panghulu/Datuok yang dilahirkan itu hanya sekedar memperpanjang rantai kemerosotan har kat, martabat dan harga diri Panghulu Adat itu.

Kalau itu yang terjadi anggota masya rakat Gurun akan menderita kecewa. Kekecewaan itu tidak ada yang dirindukan oleh masyarakat. Melainkan yang diidam-idamkannya Panghulu nan Gadang, Basa, Batuah dan Sakti. Untuk itu tentu perlu kajian yang matang demi kewaspadaan serta ke hati-hatian bersama dari pihak yang terlibat dalam acara kegiatan batagak gala Panghulu Adat di Nagari Gurun ini.

Justru acara batagak gala Panghulu Adat ini mau tidak mau suka tidak suka akan tercatat dalam lembaran sejarah Nagari Gurun. Tidak obahnya Gurun tabaka tahun 1901 kata Aznam Dt.Putieh kepada penulis tahun 1999 waktu menjadi Ketua KAN Gurun. Gurun dapat dibangun kembali atas kepiawaian Dt.Godang mantan Kepala Kabun binatang Bukittinggi.
Dt.Godang itu semulanya menulis buku yang diberinya judul “Cinduo Mato”. Buku Cinduo Mato yang ditulisnya itu sangat laku. Kiprah Dt.Godang itulah yang membuat Gurun menjadi populer walaupun sebelum nya disebut Gurun tande (tande artinya habis) habis terbakar dan berkharisma kembali….. (bersambung).