Antara Sikap Tenang Richi Aprian dan Show Off Suherman: Siapa Unggul?

Opini Oleh: Muhammad Intania, SH
(Advokat & Pengamat Sosial Politik)

“Ditarah indak tatarah, ditutuah malah nan jadi. Ditagah indak tatagah, disuruah malah nan lai”. Itulah gambaran sikap dan motivasi Richi Aprian, SH, MH untuk maju jadi bakal calon bupati Tanah Datar. Sedangkan H. Suherman, mungkin bak kata ungkapan Minang: “Ganggam ganggam baro, kok angek dilapehan” yang maknanya masih melihat situasi yang berkembang.

Kali ini penulis tergelitik untuk membahas Richi Aprian, SH, MH dengan H. Suherman dalam upaya mereka berdua menuju kursi TD 1. Kenapa? Karena mereka berdua lah yang dalam minggu terakhir menuju Idul Fitri 1445 H ini terlihat nyata dan berani “memproklamirkan” diri menjadi Bakal Calon Bupati (Bacabup) Tanah Datar pada Pilkada November 2024 nanti. Selain itu juga karena nama mereka berdua viral belakangan ini di media sosial dan di lapau lapau dengan banyak pertanyaan, jawaban dan argumentasi masing masing.

Dan untuk menjawab rasa penasaran netizen Luhak Nan Tuo, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, maka penulis bersemangat untuk menyajikan tulisan dari perspektif penulis. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan netizen semuanya.

Mari lihat photo judul tulisan ini. Baik Richi Aprian maupun H. Suherman menggunakan momentum Idul Fitri 1445 H dengan cara menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1445 H melalui baliho baliho besar yang dipasang di sepanjang jalan utama di Kabupaten Tanah Datar sembari mencantumkan kalimat “Bakal Calon Bupati Tanah Datar”. Sementara kandidat lain belum ada yang mencantumkan kalimat tersebut, sehingga sosok Richi Aprian maupun H. Suherman menjadi buah bibir masyarakat belakangan ini.

Menarik kita ulas karena kedua tokoh tersebut merupakan kader terbaik Partai NasDem. Apa mungkin 2 orang atau lebih dari partai yang sama diterima jadi Calon Bupati (Cabup) di saat bersamaan? Nah, disinilah banyak masyarakat awam yang kurang paham dengan prosedur dan dinamika politik pencalonan seseorang. Maka inilah momen yang tepat bagi penulis untuk mengutarakan pendapat / pandangan / opini penulis kehadapan netizen, sebagai berikut:

  1. Mendeklarasikan diri sebagai BAKAL CALON (Balon) adalah lumrah bagi siapa saja yang berkeinginan terjun dalam sebuah kontestasi politik, walaupun dari partai yang sama. Dan hal itu tergantung kemampuan individu dan mekanisme masing masing partai.
  2. Di partai NasDem, bisa jadi metode seleksi kandidat dilakukan secara terbuka untuk menerima siapa saja kandidat yang berkeinginan jadi Balon Bupati. Para Balon Bupati dalam periode tertentu dipersilahkan mensosialisasikan dirinya kepada publik. Kemudian dilakukan seleksi administasi dan survey internal untuk mengetahui popularitas dan elektabilitas masing masing balon serta dampak politisnya. Baru kemudian Dewan Panelis memutuskan siapa yang bisa direkomendasikan untuk menjadi Calon Bupati yang diusung Partai, yang dibuktikan dengan Surat Mandat dari Ketum Tertinggi Partai NasDem.

Baik Richi Aprian maupun H. Suherman diketahui sampai saat ini belum mengantongi Surat Mandat dari Ketua DPP Nasdem. Nah, disinilah timbul gimik politik yang dapat dimainkan oleh para parakai politik, buzzer, media maupun tukang tongek, tukang oyak atau tukang kuncang limeh yang secara marketing politik sudah turut menaikkan popularitas Richi Aprian dan H. Suherman serta Partai NasDem.

Seiring dengan naiknya popularitas Richi Aprian, membuat kubu sebelah terlihat panik dan berusaha untuk “mengkerdilkan” sosok Richi Aprian. Orang orang tim kubu rival sengaja menghembuskan isu ada gejolak di internal pengurus DPD Partai NasDem Tanah Datar. Malah kubu rival terlihat bersemangat dan mendorong terjadinya “kudeta” di partai tersebut. Sebuah intrik politik yang mudah dibaca pengamat politik Tanah Datar, hehehehe.

Baca Juga :  Adopsi Ilegal dan Perdagangan Bayi: Ancaman Terhadap Hak Anak dan Keluarga Biologisnya

Di saat bersamaan, kubu rival juga mendorong sosok H. Suherman untuk menggantikan jabatan Ketua DPD Partai NasDem Tanah Datar yang habis masa baktinya. Tujuannya asal bukan Richi Aprian yang jadi Ketua Partai, sehingga mudah nantinya untuk “menggoreng” kredibilitas Richi Aprian. Upaya turut mendorong perpecahan di Partai NasDem Tanah Datar dan sekaligus mendorong sosok H. Suherman tersebut sudah menggambarkan kekhawatiran dan kepanikan mendalam di kubu rival akan sosok Richi Aprian yang diyakini akan menjadi lawan tangguh mereka di Pilkada 2024 nanti.

Kepanikan tersebut semakin kentara manakala Richi Aprian secara tegas mendeklarasikan diri jadi Bakal Calon Bupati Tanah Datar. Maknanya, Richi Aprian siap bertarung untuk menghadapi Bupati inkumben Eka Putra, SH, MM. Pemain politik dan pengamat politik Tanah Datar pun geger dibuatnya.

Reaksi kepanikan tersebut dapat terbaca manakala tim Richi Aprian secara massif sudah memasang baliho besar jadi Balon Bupati di sepanjang jalan utama di Tanah Datar, yang kemudian langsung diimbangi oleh tim kubu rival dengan memasang baliho sejenis. Selain itu dikabari jabatan Richi Aprian selaku Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) diganti tanpa alasan yang mendasar. Sebuah kepanikan yang menyesakkan kubu rival.

Bagaimana dengan H. Suherman? Sejauh ini tidak ada reaksi negatif dari kubu rival Partai NasDem kepada H. Suherman, malah kelihatan cenderung “mendukung” H. Suherman agar bisa mengambil jabatan Ketua DPD Partai NasDem Tanah Datar dari tangan Richi Aprian. Maka dihembuskanlah melalui para parakai politik dan tukang tongek di medsos bahwa H. Suherman orang yang dekat dengan elit partai NasDem Pusat dan diisukan H. Suherman sudah mengantongi Surat Mandat dari Surya Paloh, dll yang direspon santuy saja oleh kubu Richi Aprian.

Tidak semudah itu Ferguso! Gossip murahan hanya bisa diterima oleh orang orang dungu, namun tidak bagi orang orang intelek. Orang pintar akan mencerna terlebih dahulu gossip yang diapungkan para tukang parakai dan tukang tongek.

Logika sederhana saja, jika H. Suherman sudah mengantongi Surat Mandat, kenapa tidak ditunjukkan dan dipublikasikan? Pembandingnya adalah Anton Yondra, Ketua Partai Golkar Tanah Datar yang sudah mempublikasikan dan menunjukkan salinan dokumen Surat Mandat jadi Calon Bupati Tanah Datar kepada publik. Kenapa H. Suherman tidak lakukan itu? Itu lah yang disebut gimik politik!

Dan jika H. Suherman diisukan siap menggantikan posisi Richi Aprian jadi Ketua Partai NasDem Tanah Datar, kenapa H. Suherman tidak pernah hadir di Tanah Datar melakukan pendekatan pendekatan politik? Dan tentu saja jabatan Ketua Partai NasDem TD harus mengantongi SK dari DPP NasDem. Sedangkan H. Suherman sendiri tidak / belum memegang SK tersebut.

“Hehehe ja an mudah diota tukang parakai politik tu juo lai. Mereka tu motifnyo mano ado pitih saketek ka masuak sajo tu nyo” ujar Wan Labai cengengesan melihat kurenah para tukang parakai lokal.

Jadi kesimpulannya, manuver yang dilakukan H. Suherman saat ini tidak lebih dari gimik politik untuk menaikan posisi tawar (bargaining power) H. Suherman di mata elit politik dan para tukang parakai semata.

Baca Juga :  Mitigasi Bencana Kebakaran di Minangkabau: Sebuah Kearifan Lokal di Pariangan

Publik Luhak Nan Tuo tentu masih ingat dengan rekam jejak H. Suherman di kancah perpolitikan. Belum ada kesuksesan yang ditorehkan H. Suherman. Di pileg tahun 2019 terbukti gagal, kemudian diisukan jadi calon Gubernur dan akhirnya isu tersebut redup dengan sendirinya. Lantas, pada Pileg 2024 juga terbukti kurang beruntung. Kenapa tidak memposisikan diri untuk masuk bursa Calon Gubernur lagi? Kenapa malah “turun kasta” mau jadi bakal calon Bupati Tanah Datar? Urang cadiak pandai akan tersenyum geli melihat kurenah H. Suherman ini.

“Indak ado nan tuntas dikarajokan H. Suherman ko nampaknyo di dunia politik” gumam Wan Labai mengamati rekam jejak H. Suherman di pentas perpolitikan.

H. Suherman diyakini punya kecukupan finansial untuk bertarung di dunia politik, namun disayangkan ada kekurangan yang tidak kunjung dibenahi selama ini, yaitu kurangnya sikap “engagement” dengan akar rumput / masyarakat. Kurangnya interaksi sosial langsung dengan masyarakat ini menjadi salah satu faktor penyumbang kalahnya H. Suherman dengan politisi senior M. Shadiq Pasadigue. Mayoritas masyarakat tahu dengan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi massa yang dimiliki Shadiq.

Padahal saat kampanye Pileg 2024 kemarin, penulis sudah memberikan masukan kepada salah seorang tim sukses H. Suherman agar H. Suherman diusahakan untuk tinggal di Tanah Datar dan melaksanakan aneka kegiatan untuk bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Entah disampaikan, entah tidak, yang jelas tidak terbaca H. Suherman melakukan interaksi langsung tersebut. Bagaimana mau meraih hati dan simpati masyarakat jika masyarakat tidak melihat dan merasakan langsung sosok H. Suherman. Atau jangan jangan H. Suherman tidak punya kemampuan berpidato dan berkomunikasi dengan masyarakat? Sehingga kekurangannya tersebut harus ditutupi oleh konsultan politik dan timses? Wallahu’alam.

Punya kecukupan finansial dan punya kemampuan lobi di tingkat elit politik saja tidak cukup memadai bila tidak didukung dengan keahlian komunikasi massa. Dan, kecukupan finansial Suherman itupun diragukan banyak pihak.

Ada yang berciloteh, kok Iyo banyak pitih Suherman tu, mengalir lah ka timses pileg dan konstituennyo. Manang nyo kapatang tu. Hahaha. Tapi, urusan finansial adalah urusan pribadi masing masing, tidak ada yang tahu berapa isi kantong seseorang. Maka seseorang tidak bisa mengandalkan konsultan politik dan tim sukses semata untuk memenuhi hasrat diri. Apalagi jika konsultan politik tidak mengenali SWOT dari H. Suherman, sehingga tidak akan jitu memoles kliennya. Salah poles justru berujung blunder. Ah peduli amat, yang penting cuan sudah didapat! Hehehe

Berbeda halnya terhadap Richi Aprian, selain sama sama punya kecukupan finansial, Richi Aprian punya kemampuan berinteraksi dengan masyarakat dari beragam kalangan karena punya kemampuan komunikasi massa yang sudah teruji. Akibatnya sudah terbentuk jaringan emosional seorang Richi dengan masyarakatnya yang belum dimiliki oleh seorang H. Suherman.

Selain itu sosok Richi Aprian dalam kapasitas sebagai Wakil Bupati Tanah Datar dan sebagai Ketua DPD Partai NasDem Tanah Datar telah mengetahui “isi dapur” sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Sudah tahu kurenah masing masing ASN dan pengurus serta kader partai, sehingga Richi Aprian tidak mudah untuk dipolitisir pihak lain.

Jadi menurut pandangan penulis, jangankan jadi calon bupati, untuk jadi calon wakil bupati saja masih diragukan pada diri H. Suherman karena kemampuan komunikasi massanya masih dalam tanda tanya besar!

Baca Juga :  Dinas Dikbud Tanah Datar Mulai "Main Api," DPRD "Kuliti" Bupati Melalui Rekomendasi

Membaca sepak terjang politik H. Suherman yang mencoba masuk dari pintu atas, dan terbukti gagal, maka sebaiknya seorang H. Suherman mencoba strategi baru untuk masuk dari bawah menuju ke atas (bottom up). Lebih baik misalnya, mencalonkan diri jadi Wali Nagari terlebih dahulu. Jika terpilih, akan terasah kemampuannya melayani masyarakat secara langsung, terasah kemampuan komunikasi massa, terasah kemampuan sosial dan rasa emphati serta sistim pemerintahan dasar dll. Yang pasti, akan langsung dikenal masyakarat dan kabar baik kinerja H. Suherman akan tersebar dari mulut ke mulut.

Jangan underestimate dulu, jabatan Wali Nagari adalah jabatan paling tepat untuk menguji kemampuan komunikasi, kemampuan berinteraksi, kemampuan menangani masalah dll. Selain mendapat pengalaman, sudah pasti dapat ilmu pemerintahan juga.

Contoh saja jabatan Wali Nagari Pariangan yang saat ini dijabat oleh Tasman, SE.Ak, beliau adalah seorang mantan Direktur Pos Log Riau yang benar benar ingin membuktikan diri untuk mengabdi pada kampung halamannya.

Kalau belum cukup yakin, lihat prestasi yang diukir seorang Indra Gunalan, S.Ap yang memulai karir politik sebagai Wali Nagari juga, kemudian memegang tampuk Ketua Partai PKB Tanah Datar yang terbukti membawa partainya meraih 3 kursi di DPRD Tanah Datar pada kontestasi Pileg 2024. Termasuk dirinya menjadi salah seorang anggota DPRD Tanah Datar 2024 terpilih.

Jadi, uang hanya masalah nominal, tapi bagaimana kita bijak dan terukur menggunakannya. Hal itu yang penulis lihat pada sosok Richi Aprian. Orang banyak mungkin menilai Richi Aprian seorang yang pelit dan “baretong”, menurut penulis, sosok Richi Aprian bukanlah orang yang pelit, akan tetapi taktis dan bijak untuk menggunakan uangnya. Tidak asal main serak saja. Richi Aprian tahu cara mengerjakan sesuatu dengan mempertimbangkan konsep “value for money”. Agaknya sikap bijaksana menggunakan uang inilah yang perlu kita tiru bersama sama.

Buktinya saat ini Richi Aprian sudah mengeluarkan biaya politik dengan memasang aneka baliho, membiayai pergerakan, menyiapkan sarana dan prasarana serta strategi. Memangnya semua itu tidak pakai uang?

Dari uraian di atas dan merujuk kepada pandangan peneliti dan akademisi, Ahmad Rizal Chaniago dalam tulisannya berjudul:”Suherman “Ditawarkan” Saja. Yang “Dijual” Nanti Tetap Richi Aprian?” yang dimuat di media online Jurnal Minang pada tanggal 8 Maret 2024 lalu, maka penulis menyimpulkan bahwa sikap Show Off dari Suherman tanpa diimbangi dengan kompetensi diri, tidak lebih sebagai gimik politik tingkat dasar semata. Karena ketika dihadapkan pada situasi komunikasi dan interaksi dengan masyarakat, akan ketahuan “isi kapalo nan sabananyo”, sehingga diyakini tidak akan mampu untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tentu partai tidak akan sia sia menetapkan calon terbaik yang diharapkan akan menguntungkan nama partai di tengah masyarakat. Richi Aprian sudah terbukti selama ini. Walaupun ada pihak pihak yang mencoba “manyimpai” langkah Richi Aprian, itu semata mata karena wujud kepanikan mereka sebab Richi Aprian akan menjadi saingan terberat mereka nantinya.

Kesimpulannya, silahkan nilai sendiri oleh netizen Luhak Nan Tuo, siapa yang unggul antara Richi Aprian versus H. Suherman?

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin

Salam Perubahan.

Print Friendly, PDF & Email