Padang Pariaman, Jurnal Minang. Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M., mengatakan, sebagai anak bangsa kita patut mensyukuri dan mencontoh apa yang telah diperbuat INS Kayu Tanam memajukan bangsa, untuk itu dirinya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas peringatan Satu Abad Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayutanam, yang genap berusia 100 tahun pada 31 Oktober 2026.
Menurut Shadiq, satu abad perjalanan INS Kayutanam bukan sekadar peringatan usia sebuah lembaga pendidikan, melainkan momentum bersejarah untuk mengenang dan menghidupkan kembali gagasan besar tokoh pendidikan nasional, Engku Mohammad Sjafei,dkk yang telah meletakkan fondasi pendidikan berbasis karakter, keterampilan, kreativitas, dan kemandirian,untuk kemajuan Minangkabau.
INS Kayutanam didirikan sebelum Indonesia merdeka yaitu pada 31 Oktober 1926 di Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Lembaga pendidikan ini lahir dengan semangat pembaruan, memberikan ruang bagi anak bangsa untuk mengembangkan potensi intelektual, karakter, dan keterampilan praktis, generasi muda.
“Seratus tahun INS Kayutanam mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar mencerdaskan pikiran, tetapi membangun karakter, menggali potensi, dan membekali manusia dengan keterampilan hidup. Warisan pemikiran Engku Mohammad Sjafei tetap relevan hingga saat ini, belajar dari alam, alam takambang jadikan guru, berkarya untuk kehidupan, dan mengabdi bagi masyarakat,” ungkap Shadiq yang juga Mantan Bupati Tanah Datar dua periode 2005 s/d 2015 dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).
Ia menilai, filosofi Alam Takambang Jadi Guru merupakan nilai luhur Minangkabau yang mengajarkan bahwa sumber pembelajaran tidak hanya berasal dari ruang kelas dan buku, tetapi juga dari alam, pengalaman, lingkungan, serta kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang seimbang antara kecerdasan otak, kematangan hati, dan keterampilan tangan. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memberikan ruang bagi pengembangan bakat, kreativitas, etika, dan kemandirian peserta didik.
Dalam momentum bersejarah tersebut, Shadiq juga mengenang ayahandanya, Moh. Saleh Kari Sutan, yang dikenal dengan panggilan Pakiah Saliah,juga mengajarkan filosofi kehidupan alam takambang jadikan guru.
Baginya, pendidikan dan pembentukan karakter merupakan warisan penting yang harus diteruskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai keteladanan, kerja keras, kejujuran, kemandirian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bekal penting dalam membangun kehidupan.
Peringatan satu abad INS Kayutanam sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan serta karakter manusianya.
Selaku Anggota Komisi XIII DPR RI, Shadiq menekankan pentingnya pembangunan manusia yang berkarakter, penghormatan terhadap hak-hak dasar masyarakat, serta penguatan nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia berharap para guru terus menjalankan peran strategis bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, inspirator, dan teladan bagi generasi penerus bangsa.
“Guru adalah fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa. Jangan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi tanamkan pula kejujuran, disiplin, tanggung jawab, akhlak, dan kepedulian sosial,” pesannya.
Kepada generasi muda, Shadiq mengajak agar terus meningkatkan kualitas pendidikan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengembangkan kreativitas, serta memiliki keberanian untuk berinovasi dan menciptakan peluang.
Ia juga mengingatkan agar generasi muda Minangkabau tidak kehilangan identitas dan akar budayanya di tengah perkembangan zaman.adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah. (Kasdi Ray)
