Batusangkar, Jurnal Minang,
Kearifan orang Minang itu bertolak dari pendidikan “Surau”. Karena di Surau itu, bukan hanya tentang agama lslam yang diajarkan. Tetapi juga berpepatah petitih dan pencak silat yang membuat orang sportif dan berintegritas. Hal itu dikatakan Kapolres Tanah Datar AKBP Dr.Nur lchsan D.S., S.H,.S.I.K,.M.I.K didampingi Kompol Marijohn di ruangan kerjanya. Senin (2/3-2026).
Menurut Kapolres Tanah Datar yang ke- 30 itu, keberanian dan kearifan orang Minang dapat kita lihat dalam sejarah memperjuangakan menegakan kemerdekaan Negara Republik lndonesia. Sebutlah M.Nasir, Sutan Syahrir, Muhammat Yamin, H.Agus Salim, Hamka dll nya. Kesemua to koh-tokoh nasional itu yang orang Minang pendidikanya berawal dari Surau, bahkan H.Agus Salim menggemparkan dunia.
Dikatakan oleh Kapolres yang dari Jawa itu, pemikir-pemikir “gadang” tersebut ke semuanya telah menunjukan kearifan. Kearifan itu patut kita contoh dan diteladani dalam hidup dan kehidupan sekarang. Yang tidak boleh ditinggalkan keintegritasannya dalam segala lini kehidupan.
Selanjutnya kata suami dari Anggi itu, integritas diajarkan oleh lslam yang tempo dulunya di Surau. Kokoh pendirian orang nya akan kebenaran, bagaikan tagak Merapi dan Singgalang. Begitu bukti peran Surau Minangkabau yang patut kita hidupkan kembali.
Berikutnya kata bapak dari tiga anak itu, pepatah petitih adalah yang mendidik seseorang menjadi arif. Karena dalam pepatah petitih itu selalu mengandung kiasan. Namun setiap kiasan itu punya makna, walaupun dilapazkan dengan kata-kata puitis. Makanya melihat dari penomena-penomena yang terjadi sudah seharusnya kita “Babaliak Ka Surau”. Surau satu-satunya di Minangkabau yang melakukan pendidikan multi dimensi.
Oleh karena hal itu, bersyukur kita menjadi orang Minangkabau.
Sekarang kalau kita ke Tanah Abang kata doktor ilmu administrasi itu, disana yang berdagang hampir 100% orang Minang. Orang Minang berdagang karena berdagang itu tidak membutuhkan banyak orang lain. Malah berdagang itu hasilnya pun cepat dapat, tidak sama dengan bertani yang menunggu hasil berbulan-bulan. (Datuak/Red.Jm)
